Internet, Pintu Menuju Dunia Tiada Batas

Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar🙂 Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar🙂  Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya🙂 Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya😉 Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai🙂 Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah🙂 Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik😛 Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut🙂
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google🙂 Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati🙂 Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar🙂 Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar🙂  Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya🙂 Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya😉 Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai🙂 Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah🙂 Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik😛 Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut🙂
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google🙂 Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati🙂 Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar🙂 Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar🙂  Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya🙂 Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya😉 Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai🙂 Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah🙂 Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik😛 Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut🙂
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google🙂 Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati🙂 Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar🙂 Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar🙂  Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya🙂 Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya😉 Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai🙂 Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah🙂 Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik😛 Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut🙂
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google🙂 Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati🙂 Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar🙂 Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar🙂  Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya🙂 Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya😉 Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai🙂 Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah🙂 Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik😛 Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut🙂
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google🙂 Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati🙂 Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan?🙂

Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.

Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar🙂 Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar🙂  Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya🙂 Dan memang saya pakai hingga saat ini.

Continue reading

tanpa kata

saat ada ribuan kata hendak terucap
saat ada ribuan celotehan ingin bercerita
namun diam
tak mampu berkata-kata

hanya mampu terbang
dari satu pikiran ke pikiran lain
tanpa mampu berkata-kata
hanya diam

bibir pun hendak bersuara
namun terhenti begitu saja
tak mampu rangkaikan
isi hati

karena ku hanya ingin diam

masih menanti

menanti…
detik yang terus melaju
tak mampu tepiskan
dirimu dari benakku

meski alihkan bayangmu
tapi kau masih berkutat
dalam setiap sel otakku

pelukmu
ciummu
hangatmu
selalu kunanti

tak peduli rasa lain
yang muncul di hati
rasa sayang ini
tak mungkin tergantikan

ku masih menanti
hangat pelukmu
bersamaku

6412/904091/SG

begini rasanya

begini rasanya
saat ia harus memilihnya
bukan diriku yang ada di sini

begini rasanya
saat melihatnya ia menggenggam tangannya
bukan tanganku yang dingin

begini rasanya
saat bibirnya menyentuh bibir lain
bukan bibirku yang kelu

begini rasanya
saat mata teduhnya menatap sepasang mata lain
bukan menatap mata sayu ini

begini rasanya
tersisih…

3202/904091/SG

b.o.s.a.n

menjalani rutinitas
kembali menekuri layar putih di depan mata
membuka halaman yang sama
dari ke hari

log in ke software chat
masih log in yang sama
password juga masih belum berubah

masih dikelilingi tembok putih
kanan, kiri, depan belakang
masih juga disana
dengan manusia-manusia yang tetap

Sedang dilanda kebosanan saja. Lalu tiba-tiba beberapa menit yang lalu, seorang teman mengatakan ini :

ruangan ini kan cuma media aja, kita hidupnya kan di layar entah brapa inci di depan mata ini😀 (Boo)

Yah, memang benar. Tempat saya duduk, berpijak hanyalah media. Dunia yang sedang saya geluti berada di dalam layar putih itu. Berselancar ke sana ke mari🙂

Mungkin hanya sedikit jenuh saja. Didera deadline sana-sini, serta jenuh akan rutinitas. Mungkin inilah saatnya sedikit bersenang-senang, menikmati hidup. Memangnya selama ini tidak menikmati hidup yah?🙂

Kesannya seperti tak bersyukur. Kantor yang nyaman. Teman-teman yang asik. Pemilik hati yang membuat comfort. Apalagi yang kurang? Rasa syukur mungkin jawabnya🙂

jadi ingin kembali menekuni kegiatan lain, blog dan hunting makan misalnya😛
*sok tidak peduli meski perut tambah membuncit dan berat badan menanjak😛

(tanpa) sebuah janji

aku tak minta bintang
apalagi meminta pelangi

karena bagiku,
melihat matamu
sama dengan melihat bintang bersinar

melihat senyummu
tak beda dengan melihat pelangi warna warni

tak ada yang ingin kujanjikan
karena ku pun tak ingin kau berjanji padaku

ku hanya ingin
berlari kecil bersamamu
melewati indahnya matahari bersinar dan terbenam

*mungkin tak selamanya ku kan memahamimu, satu yang pasti aku kan belajar menerimamu apadanya dan menyanyaimu tanpa syarat*

-dedicated for : bb-

Habis Gelap Terbitlah Terang

Ini adalah foto-foto ketika bermalam di Batu, Malang. Foto lain bisa dilihat di halaman Facebook saya