Dalam Diam

Bagi pemilik blogger, blog bisa dikatakan tempat untuk mencurahkan isi hati pemilik blog tersebut. Sedang sedih, senang, semua uneg-uneg yang dirasakan akan dicurahkan ke dalam blog. Tapi bagaimana jika semua kegundahan dan segala asa yang ada tak bisa dicurahkan di dalam blog? Mungkin harus membuat halaman tersendiri yang di-private hanya untuk mencurahkan isi hati πŸ™‚

Blog yang merupakan diary online, akhirnya juga bisa dibaca oleh semua orang. Kadang apa yang kita tumpahkan di blog, secara tidak langsung akan dibaca oleh orang yang bersangkutan dan akhirnya kadanag terjadi salah paham. Karena bagi saya pribadi, mencurahkan isi hati adalah cuma ingin melepaskan beban di hati saja. Kalau ada yang berkomentar pun, biasanya malah mendapat pendapat lain dari suatu masalah, atau malah menguatkan kita, itu saya syukuri πŸ™‚ Tetapi, jika akhirnya malah menjadi salah paham, karena belum tentu yang membaca bisa mempersepsikan apa yang saya tulis, malah akan menambah masalah baru, bukan? πŸ™‚

Kalau dilihat ke belakang, saya juga rindu menulis selain hanya curahan hati saja πŸ˜‰ Banyak ide di kepala, tapi yang setelah dirangkai menjadi kalimat-kalimat akhirnya, mentok, tidak tahu hasil dari penulisan tadi πŸ˜› Mungkin saya mesti lebih banyak belajar lagi yah πŸ™‚

Di dalam diam, mungkin hanya bisa dicurahkan di tempat lain yang private, yang tak ada orang yang tahu itulah saya πŸ™‚ Karena menjaga perasaan orang lain agar tak tersinggung atau tak tersakiti secara tidak sengaja tentunya, jauh lebih penting bagi saya πŸ™‚

Advertisements

4 responses to this post.

  1. wah, akhirnya kebuka juga nih blog….

    masalah mencurahkan perasaan, bisa juga dimana saja, blog mungkin bisa jadi satu pilihan buat kita, tapi kalo aja malah menimbulkan masalah baru, mending cari ‘tempat sampah’ yang lebih private kali….

    Reply

  2. kalo saia mah demen nulis diary dari dulu. trus asyik juga kali ye kalo ada thoughts (yang jelas ga private2 amat siy) bisa di-share ama yang laen kan bisa nambah knowledge πŸ˜‰

    Reply

  3. saya rasa mencurahkan rasa manusiawi banget. diam tak mau mengungkapkan juga manusiawi. setidaknya dalam diam kita mengungkapkan rasa pada segenap sel-sel dirinya sendiri dan pada pencipta. contohnya posting komen saya ini. saya coba mengungkapkan rasa saya terhadap postingmu meski saya gak mudeng dengan apa yang saya ungkapkan. tapi sel otak saya mengatakan demikian. “postinglah sesuatu niscaya kamu lega”… aneh kan?

    Reply

  4. Perhaps you may take advantage the presence of Opini Alumni at http://www.sman6.web.id You may use your undercover identity as you submit any of your idea or your feelings..

    We provide this website as a place where you can write freely in an appropriate way and share your thoughts..

    Happy Idul Fitri to y’all

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: