Archive for July, 2009

Internet, Pintu Menuju Dunia Tiada Batas

Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar πŸ™‚ Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar πŸ™‚ Β Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya πŸ™‚ Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya πŸ˜‰ Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai πŸ™‚ Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah πŸ™‚ Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik πŸ˜› Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut πŸ™‚
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google πŸ™‚ Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati πŸ™‚ Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar πŸ™‚ Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar πŸ™‚ Β Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya πŸ™‚ Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya πŸ˜‰ Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai πŸ™‚ Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah πŸ™‚ Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik πŸ˜› Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut πŸ™‚
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google πŸ™‚ Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati πŸ™‚ Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar πŸ™‚ Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar πŸ™‚ Β Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya πŸ™‚ Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya πŸ˜‰ Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai πŸ™‚ Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah πŸ™‚ Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik πŸ˜› Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut πŸ™‚
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google πŸ™‚ Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati πŸ™‚ Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar πŸ™‚ Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar πŸ™‚ Β Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya πŸ™‚ Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya πŸ˜‰ Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai πŸ™‚ Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah πŸ™‚ Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik πŸ˜› Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut πŸ™‚
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google πŸ™‚ Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati πŸ™‚ Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? :)Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.
Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar πŸ™‚ Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar πŸ™‚ Β Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya πŸ™‚ Dan memang saya pakai hingga saat ini.
Dari email Yahoo, saya beralih ke program chatting, Yahoo Messenger, ICQ hingga MIRc saya jabanin. Thanks to him yang sabar mengajari saya πŸ˜‰ Lalu, saya mulai mengenal arti kata ‘search engine’, dan salah satu yang cukup powerfull adalah Google. Hingga saat ini Google masih merajai πŸ™‚ Saya takjub ketika saya mengetikkan kata ‘lowongan kerja’ begitu banyak hasil yang keluar di sana.
Bisa ditebak, saya menjadi kecanduan internet. Karena belum ada akses internet di rumah, akhirnya saya rajin ke warnet. Bahkan saya jadi member di warnet tersebut, semata-mata agar mendapat harga jauh lebih murah πŸ™‚ Syukurlah, akhirnya ada produk internet di rumah, tapi harganya juga masih mencekik πŸ˜› Bahkan tagihan bisa beratus-ratus ribu, dan saya harus menerima akibatnya. Koneksi internet dicabut πŸ™‚
Dari kecanduan terhadap internet inilah, akhirnya saya menemukan ‘kesenangan’ lain yakni mengutak-atik halaman web dengan kode-kode HTML yang pelajari secara otodidak, tentunya dengan bantuan Om Google πŸ™‚ Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Informatika, karena ingin mendalami internet lebih jauh. Pertengahan 2002, secara tidak sengaja saya menemukan yang namanya blog. Dan inilah ‘dunia’ saya yang berikutnya.
Lewat blog saya akhirnya menemukan kepuasan tersendiri saat mencurahkan ide, pikiran bahkan sekedar curahan hati πŸ™‚ Dari blog, saya mencoba mengakrabi yang namanya milist. Meski sudah tahu milist sejak dahulu, tapi baru mencoba aktif ketika di kuliah. Dari milist dan blogger, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru. Dari yang hanya bertemu lewat media online akhirnya bisa bertemu kopdar. Bahkan lewat internet dan komunitas di dalamnya, saya menemukan pekerjaan yang saya lakoni saat ini.
Internet memang tanpa batas ruang dan waktu. Banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan dari sana. Bahkan lewat Friendster maupun Facebook, kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama kita tidak bertemu. Semua tampaknya jauh lebih mudah. Namun, jika disalahartikan, maka Internet bisa membuat kita rugi. Bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia? Dan semuanya kembali pada kita sendiri, mau mempermudah atau malah mempersulitnya, ya kan? πŸ™‚

Internet, kata ini mungkin tidak asing lagi saat ini. Hampir semua orang sudah paham arti kata internet. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1999. Kala itu saya masih duduk di kelas di bangku SMU. Kalau tidak salah saya masih kelas 1 SMU. Bermula dari seorang teman yang bercerita kalau dia sudah bisa membuat email. “Email? Apa itu?” tanya saya kala itu. Akhirnya dia menjelaskan, email adalah sejenis surat, tapi berbentuk elektronik, yang dikirimkan lewat internet. Jika surat itu urgent, tidak perlu pos kilat, karena pengiriman email hanya butuh beberapa detik saja.

Teman saya ini pada akhirnya rela mengajari saya dengan sabar πŸ™‚ Pertama kali yang saya buka adalah homepage Yahoo (seingat saya dulu Yahoo lebih populer dari Google di Indonesia). Karena akses internet masih terbatas, kami berdua mencari warnet, yang harganya perjamnya masih Rp10.000, cukup mahal seukuran kantong pelajar πŸ™‚ Β Dari Yahoo inilah saya berhasil membuat email pertama kali. Kebetulan saya sudah memakai komputer di rumah kala itu, jadi istilah username, password sudah tidak asing lagi. Yang agak susah mencari username email, karena ingginya seperti nama dipakai untuk selamanya πŸ™‚ Dan memang saya pakai hingga saat ini.

Continue reading